Mengenang Duri Orde Baru
Aksi dibuka dengan diskusi tentang penghilangan paksa dan dilanjutkan dengan pembacaan puisi Wiji Thukul. Koordinator acara Wahab Habsari mengatakan, selain sebagai bentuk solidaritas, acara ini juga bentuk desakan agar kasus penghilangan paksa dituntaskan.
“Aksi ini kami gelar sebagai wujud keprihatinan atas belum kembalinya Wiji Thukul, yang hilang diculik saat Orde Baru berkuasa,” kata Wahab Habsari.
Seniman buruh, Wiji Thukul lahir di Sorogenen, Solo, 26 Agustus 1963. Karya-karya yang cenderung keras dan melawan ketidakadilan, membuat Wiji Thukul menjadi musuh pemerintah Orde Baru.
Thukul diculik dan belum ditemukan hingga hari ini. Sajak dan puisi Wiji Thukul memperoleh penghargaan Wertheim Encourage Award tahun 1991.(red)



Post new comment