Freelancers Butuh Business Plan?
Freelancing dan Business Plan - image by im.mick
Bukannya business plan hanya dipakai untuk menjalankan usaha? Konon business plan dapat membantu kita mencapai target finansial jangka panjang, benarkah? Jadi, apa itu business plan? Yuk, baca sebentar.
Menurut Wikipedia, business plan adalah pernyataan yang berisi tujuan (goals), alasan kenapa tujuan-tujuan itu masuk akal, dan rencana kita untuk mencapai tujuan itu. Kalau saat ini Anda masih tergolong pendatang baru di dunia freelancing, mungkin tujuan-tujuan jangka panjang yang Anda susun adalah,
- <1 tahun : dapat klien. penghasilan per bulan minimal revenues = expenses.
How to => perluas networking dan coba peruntungan di freelancing market.
- 1-3 tahun : punya 5-20 klien tetap. bisa nyicil gadget & motor.
How to => sama dengan poin pertama ditambah dengan mempertahankan hubungan baik dengan klien.
- 3-5 tahun : punya 20-40 klien tetap. bisa nyicil rumah & mobil.
How to => sama dengan poin pertama dan kedua ditambah dengan aktif PDKT ke klien-klien kelas kakap.
- 5-10 tahun : punya studio/kantor sendiri dengan 5-10 karyawan. tanpa perlu mencari, pekerjaan datang sendiri.
How to => mencari freelancers yang satu visi untuk jadi partner membangun studio/kantor, menyeleksi karyawan, dsb.
- >10 tahun : pensiun, travelling keliling dunia (oke, yang ini udah melenceng dari business plan)
Apakah goals list di atas adalah business plan? Nope. Atau lebih tepatnya, sebagian adalah business plan, sebagiannya lagi, yaa.. cita-cita pribadi (:nyicil gadget, motor, rumah, mobil, dsb).
Perlu diingat kalau business plan adalah serangkaian rencana yang semata-mata berkaitan dengan bisnis kita. Bahkan, salah satu argumen yang menyarankan freelancers untuk menyusun business plan adalah agar kita bisa profesional dengan memisahkan mana yang urusan pribadi, mana yang pekerjaan.
Namun, sebagaimana setiap topik yang relatif kontroversial, business plan bagi freelancers pun memiliki sisi yang pro dan kontra.
Pro
Beberapa argumen yang dikeluarkan oleh freelancers yang pro akan business plan yaitu,
- Sebagai pegangan/acuan. Apalagi, kebanyakan freelancers adalah single fighter.
- Antisipasi atas hal-hal yang tidak diduga. Misalnya, bagaimana kalau bidang freelancing yang kita masuki sedang surut klien? Apakah kita akan tetap berjuang, atau beralih ke bidang lain? Kalau pindah bidang, bagaimana cara kita mengasah skill?
- Sebagai arah karier freelancing. Kalau kata Armada, “Maau diibaawa ke maanna freelancing innii?” :p
Kontra
Sisi kontra pun memiliki alasan yang menarik, di antaranya adalah,
- Perencanaan itu NATO (No action, talk only). Atau H2C (hayu hayu, cicing = ayo ayo, diam). Alias tidak ditindaklanjuti dengan aksi yang sepadan.
- Mengutip kata-kata Jason Fried (pendiri 37signals.com) dalam buku Rework, “Planning is guessing.” Katanya, manusia itu lemah dalam merencanakan, hal yang sepele seperti berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk belanja bulanan saja meleset, apalagi jangka panjang?
- Perencanaan bisa jadi justru menghambat kesuksesan. Ini masih ada hubungannya dengan no. 2. Misalnya, ketika kita menetapkan target nilai proyek yang masuk per bulan adalah Rp30 juta, kita akan cenderung puas ketika mencapai angka segitu. Padahal, mungkin saja sebenarnya kita dapat mencapai penghasilan Rp50 juta/bulan.
Nah, termasuk pro atau kontrakah Anda? Ditunggu opininya. ![]()


Post new comment